Tak pernah terbayangkan oleh Sarmi, seorang perempuan 43 tahun asal Mojokerto, bahwa usaha rumahan kerupuk kulit yang ia rintis akan menghasilkan omzet hingga Rp34 juta per bulan. Perjalanan suksesnya bermula dari keberanian merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia juga membantu bisnis agen koran milik majikannya.
Setelah delapan tahun, ia memutuskan membuka usaha sendiri dengan menjadi loper koran. Sarmi dan suaminya membuka lapak terpisah dan meraih omzet harian hingga Rp200 ribu. Namun, usaha tersebut harus tutup akibat penggusuran dan berbagai penipuan dari rekan sesama loper.
Tak menyerah, Sarmi beralih berjualan sate padang, terinspirasi dari mertuanya. Ia menambahkan kerupuk kulit sebagai pelengkap, yang ternyata justru lebih diminati. Menyadari potensi tersebut, Sarmi memfokuskan usahanya pada produksi kerupuk kulit, meskipun awalnya banyak gagal karena belum memahami teknik penggorengan.
Pada 2016, ia serius mengembangkan usaha kerupuk kulit. Namun keterbatasan modal menjadi tantangan. Upaya pengajuan pinjaman ke bank gagal karena keterbatasan aset dan tingginya bunga. Titik balik datang saat ia dikenalkan pada program BAZNAS Microfinance. Melalui program itu, ia mendapatkan pembiayaan tanpa bunga dan pendampingan usaha.
Dengan bantuan BAZNAS, Sarmi membeli peralatan dan bahan baku, memperluas jangkauan pasarnya, dan kini bermitra dengan lebih dari 50 warung. Produk kerupuk kulitnya yang diberi merek Falafa telah menjangkau berbagai wilayah.
Editor : Shinta Lintang Nurillah